Minggu, 08 Desember 2013

BATUMEKAEM


Banjar Pekraman Batumekaem adalah daerah paling utara Kota Denpasar yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Badung.
Banjar Pekraman Batumekaem adalah salah satu Banjar yang terletak di Desa Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis yang tertuang dalam awig-awig Banjar Pekraman Batumekaem di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pekraman Sading, di sebelah Timur berbatasan dengan Banjar Tulangampiang di sebelah selatan berbatasan dengan Banjar Anyar-Anyar dan di sebelah Barat berbatasan dengan Banjar Tegal Kangin Umahanyar. Secara demografis sampai saat ini Banjar Pekraman Batumekaem terdiri dari 45 KK krama ngarep, dan hampir 100 KK krama tamiu yang berada dipelemahan Banjar Pekraman Batumekaem.
 Krama/warga tamiu ini terdiri dari berbagai spectrum latar belakang adat, budaya dan agama. Di samping masyarakat Bali yang beragama Hindu menempati wilayah permukiman di palemahan Banjar Pekraman Batumekaem, terdapat juga warga muslim, warga kristiani, dan yang lainnya, yang sebagian besar masih berstatus warga dinas atau bukan menjadi warga adat.
Secara geografis batas – batas wilayah Banjar Pekraman Batumekaem yang tertuang dalam awig-awig Banjar adalah : 

1.             Sebelah Utara        :    Desa Pekraman Sading 
2.             Sebelah Timur        :    Banjar Tulangampiang 
3.             Sebelah selatan      :    Banjar Anyar-Anyar
4.       Sebelah Barat  :           Tegal Kangin Umahanyar

Jumat, 20 April 2012

WANTILAN

Arsitektur tradisional Bali adalah suatu karya arsitektur yang banyak melibatkan berbagai disiplin ilmu tradisional Bali, seperti agama, kosmologi, filosofi, sikap hidup, dan alam lingkungan. Hal ini dapat ditemukan pada tulisan-tulisan lontar yang dikenal dengan sebutan Asta Kosali, Asta Bhumi, Asta Patali, Sikunting Umah, Giwakarma dan sebagainya. Pada umumnya estetika karya arsitektur diartikan sebagai keindahan unsur seni (rupa) yang terdapat dalam karya tersebut
Arsitektur tradisional Bali sebagi hasil karya masyarakat yang mengandung unsur – unsur normative, tampak dalam fungsi bangunan terhadap kelompok organisasi kemasysrakatan ( desa / banjar ) atau kelompok organisasi geneologis ( kelompok warga ,pededian / paibon.), Berdasarkan itu maka terbagi menjadi 3 bagian , yaitu :
1.      Bangunan yang digunakan sebagai tempat sembahyang ( Pura, Sanggal, Pemerajah )
2.      Bangunan untuk tempat tinggal ( Grya, Jero, Puri, Umah )
3.      Bangunan yang digunakan sebagai tempat perrtemuan umum ( Balai, Wantilan, Balai Banjar )

Pengelompokan bangunan menjadi 3 jenis di hubungkan dengan hakikat manusia sebagai mahluk tuhan dan mahluk social, yang berhubunagn secara harmonis.
Konsep keseimbangan kekuatan positif dan negatif di dalam Lontar Civa tatwapurana ada istilah Bhutaya, Manusya, Dewaya. Kekuatan ala mini dapat berubah menjadi kekuatan positif – negatif. Buta ( sebagai pemusnah ),Dewa ( sebagai pelindung )
konsep ini digunakan dalam struktur bangunan yang berpegang pada penghuninya.
Penempatan, penggunaan, dan pembuatan bangunan akan memberikan rasa tentram, rukun, dan makmur pada penghuninya, dan sebaliknya dapat membuat
sengsara pemiliknya, selain itu konsep Luhur Teben ( huku hilir ), Meral – Propan, Ala – Ayu ( baik – buruk, nista, madya – utama ) utpati, ashiti, Pralina, juga menjadi konsep pertimbangan dalam mendirikan sebuah bangunan.
Wantilan berasal dari katawanti yang berarti ulang atau tumpang. Menurut Oka Granoka,1985, wantilan merupakan bangunan terbuka ke segala arah yang memiliki atap bertumpang. Sehingga wantilan berarti bangunan umum terbuka yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dipura, desa, pasar atau bale banjar yang beratap tumpang. Wantilan biasanya diletakkan di Jaba Pura, Catusphata Puri atau di tengah desa.

Eksistensi wantilan menjadi bagian yang penting dalam sebuah pura terutama pura banjar untuk skala banjar, pura kahyangan tiga untuk skala desa serta pura kahyangan jagat untuk skala jagat. Pentingnya wantilan tersebut disebabkan karena fungsi wantilan untuk tempat upacara tabuh rah yang merupakan bagian dari prosesi ritual pura

Jumat, 18 November 2011

KONSEP ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI

Arsitektur Tradisional Bali bersumber dari ajaran ajaran serta tuntunan tentang merencanakan dan menciptakan ruang. Ajaran serta tuntutan tersebut mengandung nilai yang sangat mendasar, nilai filosofis, nilai religius serta nilai manusiawi yang termuat dalam lontar – lontar. Konseptual perancangan arsitektur tradisional Bali berdasarkan pada nilai tata ruang yang dibentuk oleh tiga sumbu berikut :
a.    Sumbu Cosmos  : Bhur, Bhuah dan Swah (hydrosfir, litosfir dan atmosfir)
b.    Sumbu Ritual     : Kangin dan Kauh (terbit dan terbenamnya matahari)
c.    Sumbu Natural   : Utara dan Selatan (gunung dan laut)
Menurut Eko Budihardjo, konsep dasar dari Arsitektur Tradisonal Bali (ATB) yang selalu dipakai pada pembangunan bangunan Bali dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.        Tri Loka or Tri Angga Hierarchy of Space
2.        Nawa Sanga or Sanga Mandala Cosmological Orientation
3.        Manik Ring Cecupu Balanced Cosmology
4.        Human Scale and Proportion
5.        Open air, ‘court concept
6.        Calrity of structure
                  7.   Truth of Materials

Senin, 28 Maret 2011

ALAMKU

Dalam menentukan arah dan kebijakan pembangunan berkelanjutan dengan mempertimbangkan kelestarian sumber alam, maka kondisi riil sumber daya alam perlu mendapat perhatian serius. Kondisi sumber daya alam saat ini dan kecenderungannya ke depan harus dijadikan dasar dalam menentukan pembangunan yang akan dikembangkan. Pembangunan yang berwawasan lingkungan terasa belum sepenuhnya dapat diterjemahkan oleh seluruh aparat pelaksana pembangunan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada, sedangkan di pihak lainmasyarakat belum mengerti tentang arti penting kelestarian lingkungan. Kualitas lingkungan semakin menurun contohnya dengan banyaknya pantai dan sungai yang kondisinya kritis akibat abrasi dan erosi. Pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak brencana yang mengakibatkan keseimbangan lingkungan menjadi rusak. 
Dinamika perkembangan kehidupan manusia menunjukkan bahwa semakin modern tingkat kehidupan manusia, semakin besar sumber daya alam yang dikonsumsi dan semakin besar pula tingkat kerusakan dan pencemaran sumber daya alam yang ditimbulkan. Perkembangan kehidupan tersebut pada akhirnya menyebabkan semakin kristis/parahnya kondisi sumber daya alam. Halini juga secara langsung menunjukkan bahwa faktor prilaku manusia yang ada disekitar sumber daya alam yang ada tersebut menjadi sangat menentukan kondisi sumber daya alam ang ada tersebut menjadi sangat menentukan kondisi kondisi sumber daya alam yang ada di sekitar mereka.

Kamis, 24 Februari 2011

RUANG DALAM ARSITEKTUR


­Pada hakekatnya ruang-ruang pada arsitektur rumah tinggal baik pada masyarakat Barat maupun Timur pada awalnya mempunyai pola yang sama yaitu mempunyai konsep mitologi dan kosmologi pada penataan ruangnya. Dalam perjalanan sejarah kemudian masyarakat Barat mulai meninggalkan tahapan Mistis dan mulai memasuki tahapan Ontologis. Ini kalau kita mengacu kepada pembagian tahapan kebudayaan masyarakat menurut Van Peursen. Sedangkan masyarakat Timur cenderung masih mempertahankan kebudayaan mistisnya walaupun saat ini juga terlihat adanya perubahan akibat proses akulturasi.
­ Pemahaman tentang makna ruang yang terjadi sebenarnya tidak dapat dibedakan secara "hitam putih" dengan klasifikasi dikotomis Timur-Barat; Rasionalis- Romantis sebab dalam realitanya pada masyarakat Barat (Inggris, Jerman, Perancis dan Amerika) maupun pada masyarakat Timur (Jepang, Cina, Arab, Bali dan Jawa) sendiri di masing- masing kebudayaan juga memiliki perbedaan wujud dan makna ruang yang dijadikan wadah aktivitasnya. Seperti misalnya sama-sama antroposentris, tetapi di Barat ada generalisasi ukuran sedangkan di Timur mengacu kepada masing-masing tubuh pemilik rumah.
­Ruang dalam arsitektur merupakan suatu hal yang cukup misterius dimana keberadaannya cukup mengundang para arsitek untuk merenungi secara mendalam sebelum menata, merangkai menjadi suatu arsitektur dan menyesuaikannya dengan kebudayaan yang dipangku oleh pemakainya.
­ Paradigma berpikir tertentu ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami atau menilai karya arsitektur yang bersumber pada paradigma yang berbeda. Karena kalau dipaksakan akan menghasilkan suatu "Ecolo- gical Fallacy" (kesalahan berpikir yang timbul karena menyimpulkan dari satuan unit
analisis yang berbeda).

Kamis, 10 Februari 2011

SURAT DARI SAHABAT

Sudah enam hari ini saya tidak memuat tulisan apapun di blog ini... akhir akhir ini saya sedikit bingung ingin menulis apa mungkin karena ngak ada ide tulisan apa yang harus saya buat... ngak sengaja tadi buka FB saya dan klik klik di sana sini eh nyasar di kotak pesan saya. disana saya menemukan sebuah kiriman dari teman yang sedang kerja di luar negeri yang menggelitik saya untuk memposting tulisan tersebut di blog ini. surat itu kurang lebih isinya tentang betapa kaya sebenarnya negeri ini dengan segala sumber alam dan manusia yang dimilikinya. entah dimana teman saya menemukan tulisan tersebut. melihat kondisi masyarakat kita sekarang ini yang selalu diterpa isu - isu SARA serta gejolak ekonomi, saya ingin memuat tulisan ini yah sekedar melupakan sejenak betapa sebenarnya kita memiliki potensi besar. kurang lebih isi surat tersebut seperti berikut

ini. Ceritanya memang benar-benar luar biasa, membuat kita semakin bangga jadi orang Indonesia !
 Begini ceritanya, seorang backpacker dan seorang pengusaha dari Singapore.
 ...Suatu pagi di Bandar Lampung, kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.
 Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..
 “Your country is so rich!”
 Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..
 “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia”
 “Everything can be found here in Indonesia, u don’t need the world”

“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia!”
 “Singapore is nothing, we cant be rich without Indonesia . 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat.”
 “Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. sangat terasa, we are nothing.”
 “Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras”
 “Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”
 “Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2 kalian sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri.”

“Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world..”

Bangga Jadi Orang Indonesia!!!