Rabu, 21 April 2010

TEORI ARSITEKTUR

PENDAHULUAN

Arsitektur berkembang tidak di dalam ruang hampa, melainkan ada di dalam konteks kehidupan masyarakat. Seperti pada ilmu – ilmu lain, keadaannya selalu berkaitan dengan dinamika kehidupan masyarakat. Hal itu berarti terdapat hubungan timbal balik antara arsitektur dengan kehidupan masyarakat. Arsitektur dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, arsitektur kadang menjadi obyek dan kadang juga menjadi subyek dalam konteks hubungan timbal balik itu. Sebagai subyek, seringkali arsitektur memiliki peran menentukan perubahan masyarakat, melalui karakteristik obyek – obyek arsitektur yang muncul, baik berupa bangunan, maupun tata ruang luar pada berbagai tingkat keadaan (skala).

Arsitektur dalam konteks perubahan masyarakat : mungkinkah perubahan sosial masyarakat melalui partisipasi arsitektur ? Menurut Victor Papanek (1984), perancang menghadapi dilema etikal yakni antara profit dan tanggung jawab sosial (38), sedangkan desain & desainer harus memiliki kontribusi dalam kehidupan nyata manusia dan sosial (39). Hal itu menunjukkan bahwa peran perancang (arsitek) berada di dalam ketegangan diantara dua kutub, yakni kutub ideal dan kutub kehidupan nyata.

Menurut, Evans, Powell & Talbot (1982), perancang (arsitek) adalah agen perubahan (3) dan perancang harus memikirkan dampak jangka panjang rancangannya pada kehidupan manusia (3). Juga dikatakan bahwa desain dalam konteks sosial hendaknya bukan hanya suatu ungkapan diri, seyogyanya melayani masyarakat (6). Dengan demikian, hakekat desain harus diubah ke arah plural view (interdiciplinary approach).

Permasalahannya : bahwa tujuan perubahan masyarakat adalah menuju masyarakat yang

sempurna, bebas dari penindasan, pembelengguan, keterbelakangan, maka desain seharusnya mengandung maksud emansipatoris (ide dasar Marx, 1867). Pertanyaannya adalah Bagaimana landasan rasional desain yang bertujuan emansipatoris ? (2) Paradigma atau teori arsitektur manakah yang memadai sebagai landasannya ?.

Teori Kritis versi Juergen Habermas dapat dipertimbangkan menjadi alternatif untuk membangun kesadaran baru berarsitektur.Teori positivistik menceriterakan keadaan secara apa adanya, merumuskan realitas obyektif (“bebas nilai”). Teori positivistik sebagai landasan aksi akan menghasilkan kenyataan obyektif lama muncul dalam konteks baru (status quo). Teori positivistik bersifat ideologis dan apabila menjadi landasan aksi akan menciptakan dilema usaha manusia rasional yang terjebak irasionalitas.Teori Kritis menjadi kritis terhadap teori – teori positif karena bertujuan membangun dan membebaskan manusia dari segala belenggu yang muncul.

Sejarah Arsitektur

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara yang tersedia dan teknologi konstruksi. Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.

Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.

Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.

Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.

TEORI KRITIS DALAM WACANA TEORI ARSITEKTUR

Abstraksi

Selama ini dikenal tiga khasanah teori yang diakui ada dalam dunia arsitektur. Pertama, teori tentang arsitektur bersifat memaparkan tentang arsitektur menurut posisi teoritis arsitek dan paradigma yang dianutnya. Kedua, teori di dalam arsitektur berupa teori “apa saja” yang digunakan oleh para arsitek dalam praktik profesionalnya. Ketiga, teori arsitektur yakni sebentuk teori yang khas arsitektur, mirip teori atom atau teori gravitasi yang muncul serta berlaku dalam ilmu fisika. Teori arsitektur jenis ketiga ini sebenarnya lebih tepat berada dalam kategori teori dalam arsitektur, yang menunjukkan adanya academic sense daripada teori tentang arsitektur. Meskipun demikian, teori arsitektur akan muncul dari adanya teori – teori tentang arsitektur, sebagai konsekuensi logis dan menjadi substansi dari paradigma arsitektur yang dianut seorang pencetus teori. Dalam pemahaman dunia akademik, suatu teori dikenal memiliki tiga sifat, yakni eksplanatif, prediktif, dan kontrol. Teori dengan pengertian semacam itu umumnya berlaku bagi teori – teori dalam ilmu (scientific theories), namun tidak berlaku dalam dunia arsitektur. Teori dalam dunia arsitektur bersifat unscientific, spekulatif, subyektif, terkait dengan eksplanasi konsep desain, merupakan tuntunan praktik, atau iluminasi tentang suatu desain arsitektur. Teori dalam arsitektur tidak mampu memberikan jaminan keberhasilan prediksi seperti halnya teori dari khasanah ilmu. Dengan demikian, arsitektur hanya akan mendukung status quo, menciptakan yang lama dalam situasi baru, maka tidak mampu menjadi sarana emansipatori kehidupan manusia. Oleh karenanya, arsitektur tidak dapat lagi menggunakan teori tradisional atau bersifat spekulatif saja karena tidaklah memadai untuk praktek arsitektur kini dan masa depan. Arsitektur hingga kini telah semakin terlibat di dalam kehidupan masyarakat, bahkan menjadi sarana bagi penyelesaian problematika kehidupan manusia, maka sudah selayaknya tidak hanya menggunakan teori – teori yang bersifat spekulatif, melainkan perlu dilandasi dengan nilai - nilai etis.

Arsitektur semestinya mampu menjadi sarana emansipatori manusia, yakni pembebasan dari kealamiahan manusia maupun dari rintangan yang dibuatnya sendiri. Hal itu berarti, arsitektur yang mau menjadi sarana emansipatori manusia hendaknya selalu berada di dalam diskursus tanpa henti dengan pengalaman praktik (dimensi empiris) maupun dengan teori - teori (dimensi transenden). Dunia arsitektur harus menyadari bahwa kebenaran yang telah ditemukan sebenarnya bersifat tentatif, dan hanya dengan refleksi dua kutub, maka kebenaran sejati makin menampakkan diri. Arsitektur perlu belajar dari pemikiran Juergen Habermas, menjadi arsitektur yang kritis karena hendak bersifat emansipatoris. Arsitektur semestinya tidak semata – mata berada di dalam paradigma ilmu – ilmu empiris – analitis, atau ilmu – ilmu historis – hermeneutis, sebaiknya juga dilandasi paradigma ilmu – ilmu tindakan yang berkepentingan emansipatoris.

Implikasinya, teori - teori dalam dunia arsitektur hendaknya selalu berada dalam kondisi dinamis, senantiasa direfleksikan terhadap cita - cita etis dan emansipatori manusia karena teori yang berubah menjadi ideologi atau mitos akan memutlakkan kebenaran - kebenaran ideologis serta menolak pemikiran - pemikiran kritis. Teori semacam itu potensial menjadi pembatas gerak bagi kelestarian kehidupan. Teori arsitektur meskipun berkembang di dalam sejarah arsitektur, dialektika teori – praksis, dan di dalam kritikisme, sebenarnya menjadi bagian dari sejarah perkembangan ilmu - ilmu. Teori - teori dalam arsitektur perlu selalu diinteraksikan dengan teori dalam bidang - bidang ilmu lain, sehingga memiliki kekuatan yang makin efektif sebagai sarana emansipatoris. (ydp.251200)

DISKURSUS TEORI – TEORI ARSITEKTUR

Selama ini diskursus teori arsitektur berputar – putar pada teori atas dasar pandangan positivistis, yang melihat arsitektur sebagai kenyataan empiris. Ada sebagian teori yang bersifat subyektif (manifesto) mengandung sifat - sifat emansipatoris, sebagian lainnya tidak berdasarkan cita – cita dan nilai – nilai etis.

Dalam dunia arsitektur dikenal tiga khasanah teori yang diakui ada. Pertama, teori tentang

arsitektur (teori arsitektur) bersifat memaparkan tentang what is architecture menurut posisi teoritis arsitek dan paradigma yang dianutnya. Kedua, teori di dalam arsitektur (theory in architecture) berupa teori “apa saja” yang digunakan oleh para arsitek dalam praktik profesionalnya. Ketiga, teori arsitektur (theory of architecture) yakni sebentuk teori yang khas arsitektur, mirip teori atom atau teori gravitasi yang muncul serta berlaku dalam ilmu fisika. Teori arsitektur jenis ketiga ini sebenarnya lebih tepat berada dalam kategori theory on architecture, yang menunjukkan adanya academic sense 3 daripada teori arsitektur. Meskipun demikian, teori tentang arsitektur akan muncul dari adanya teori arsitektur, sebagai konsekuensi logis dan menjadi substansi dari paradigma arsitekturyang dianut seorang pencetus teori.

Menurut pemahaman dunia akademik, suatu teori dikenal memiliki tiga sifat, yakni eksplanatif,prediktif, dan kontrol. Teori dengan pengertian semacam itu umumnya berlaku bagi teori – teori dalam ilmu (scientific theories), namun tidak berlaku dalam dunia arsitektur. Teori dalam dunia arsitektur bersifat unscientific, spekulatif, subyektif, terkait dengan eksplanasi konsep desain, merupakan tuntunan praktik, atau iluminasi tentang suatu desain arsitektur. Teori dalam arsitektur tidak mampu memberikan jaminan keberhasilan prediksi seperti halnya teori dari khasanah ilmu. Dengan demikian, arsitektur hanya akan mendukung status quo, menciptakan yang lama dalam situasi baru, maka tidak

mampu menjadi sarana emansipatori kehidupan manusia. Oleh karenanya, arsitektur tidak dapat lagi menggunakan teori tradisional atau bersifat spekulatif saja karena tidaklah memadai untuk praktek arsitektur untuk kini dan masa depan.

TEORI KRITIS

Teori kritis muncul di kalangan ilmuwan sosial di Frankfurt (Jerman), merupakan kritik terhadap perkembangan masyarakat dengan maksud membebaskan manusia dari belenggu budaya teknokrat modern (Magnis-Suseno, 1992:160). Teori kritis tidak hanya bersifat kontemplatif, melainkan juga bermaksud mengubah, membebaskan manusia dari belenggu yang dibuatnya sendiri, ingin mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia (ibid. 162). Teori kritis pada dasarnya merupakan usaha pencerahan (Magnis-Suseno, 1992: 165), yakni bermaksud menciptakan kesadaran kritis terhadap “kemajuan – kemajuan” kehidupan manusia. Teori kritis hendak menyingkap kemajuan semu yang berkembang, misalnya : rasionalisasi dari akal budi obyektif ke akal budi instrumentalis menghasilkan irasionalitas karena akal budi kehilangan otonomi dan menjadi alat belaka (Sindhunata, 1982:121).

Teori Kritis “awal” (era Horkheimer) merupakan koreksi terhadap teori Karl Marx tentang perubahan masyarakat. Teori Karl Marx yang bersifat obyektif tentang perubahan masyarakat merupakan deskripsi hukum – hukum obyektif yang menentukan perkembangan masyarakat (Magnis-Suseno, 1992: 164).

Menurut para cendekiawan Frankfurt, teori Marx telah jatuh ke dalam jebakan kontemplatif, padahal semula bermaksud emansipatoris (ibid. 164). Teori Marx telah membeku menjadi teori kontemplatif, yang hanya mendiskripsikan fakta – fakta obyektif, maka tidak lagi bersifat emansipatoris. Marx jatuh ke dalam salah paham positivistik terhadap teorinya sendiri (ibid.164).

Teori kritis “awal” tersebut telah gagal menjadi teori yang emansipatoris karena bertolak dari pengandaian – pengandaian dari teori yang ditolaknya (teori Marx yang berdasarkan paradigma manusia kerja). Habermas membaharui teori kritis, dengan titik tolak paradigma manusia adalah makhluk yang berinteraksi (paradigma komunikasi); masyarakat komunikasi terbuka bebas tekanan.

Menurut Habermas, kerja merupakan salah satu tindakan dasar manusia dan disamping bekerja manusia masih melakukan tindakan dasar lain yakni interaksi (Magnis-Suseno, 1992:171). Bekerja merupakan tindakan manusia terhadap alam sedangkan interaksi merupakan hubungan manusia dengan manusia lain (ibid). Tampak disini bahwa kegagalan teori kritis (meskipun telah melampaui teori Marx) karena kesempitan paham tentang filsafat manusia yang dijadikan pengandaiannya.

PEMIKIRAN JUERGEN HABERMAS

Juergen Habermas sebagai pembaharu teori kritis melakukan penelitian tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kepentingan. Menurut teori kritis, dibalik selubung obyektivitas ilmu – ilmu tersembunyi kepentingan – kepentingan kekuasaan (Magnis-Suseno, 1992:182). Menurut Habermas, ilmu pengetahuan hanya muncul karena berkaitan dengan kebutuhan manusia yang fundamental, dan hal ini bertentangan dengan pandangan umum yang berlaku bahwa ilmu – ilmu bebas dari kepentingan

dan nilai (value free). Atas dasar itulah, Habermas membedakan ilmu – ilmu menjadi tiga kelompok, yakni

(1) ilmu – ilmu empiris – analitis,

(2) ilmu – ilmu historis – hermeneutis, dan

(3) ilmu – ilmu tindakan (reflektif – kritis)(ibid.183).

Ilmu – ilmu empiris – analitis (misal : ilmu alam) bertujuan pada penguasaan alam dengan cara mencari hukum – hukum yang pasti sehingga manusia dapat menyesuaikan diri dengan alam bahkan memanfaatkannya (ibid). Ilmu – ilmu historis – hermeneutis bertujuan memahami lingkungan dalam interaksi dan bahasa, yakni menangkap makna (ibid). Maksud dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan saling pengertian dengan tujuan tindakan bersama (ibid). Ilmu – ilmu tindakan, merupakan penekanan dari Habermas, bertujuan membantu manusia dalam bertindak bersama dalam rangka pembebasan, dengan metode dasar reflektif kritis atas sejarah subyek manusiawi (ibid).

Menurut Habermas, pekerjaan dan komunikasi (interaksi) merupakan tindakan dasar manusia (Magnis-Suseno, 1992:187). Bekerja adalah sikap manusia terhadap alam dan komunikasi adalah sikap terhadap sesama manusia (ibid). Dalam pekerjaan, hubungan manusia – alam tidak simetris, manusia mengerjakan alam sedangkan alam bersifat pasif (ibid). Melalui pekerjaanlah manusia menguasai alam.

Dalam komunikasi, manusia berhubungan dengan manusia lain secara simetris timbal – balik, saling mengakui kebebasan masing - masing (ibid). Menurut Habermas, pekerjaan dan komunikasi berjalan menurut aturan yang berbeda dan mempunyai rasionalitas yang berbeda pula (ibid).

Pekerjaan merupakan tindakan yang memuat rasionalitas sasaran, maka merupakan tindakan instrumental. Sedangkan komunikasi merupakan interaksi yang dilakukan secara simbolis menggunakan bahasa dan norma – norma. Tujuan pekerjaan terletak di luar pekerjaaj itu sendiri sedangkan komunikasi bertujuan mengembangkan kepribadian orang. Pekerjaan dilakukan dengan landasan aturan teknis, sedangkan interaksi didasari oleh norma – norma yang hanya dapat dijamin keberlakuannya melalui kesepakatan dan pengakuan bersama. Dengan demikian, teori perkembangan masyarakat bukanlah proses yang sederhana dalam dimensi ketrampilan – ketrampilan teknis, melainkan juga dalam dimensi normatif – etis; disinilah koreksi terhadap teori Marx (Magnis-Suseno, 1992:188).

KRITIK TEORI KRITIS TERHADAP WACANA TEORI ARSITEKTUR

Teori kritis (Habermas) muncul dari pandangan historis, bukan positivistis. Dengan demikian, menurut habermas, arsitektur jika dipandang sebagai kenyataan historis, bukan semata – mata empiris, maka refleksi atas realitas historis akan membawa pencerahan dan memungkinkan masuknya cita – cita dan nilai – nilai etis (bios-theoretikos). Dengan demikian, teori kritis tentang arsitektur akan bersifat reflektif – kritis.

Kesadaran positivistis melihat realitas atas dasar paham obyektif “bebas nilai”, yang mengatakan “apa adanya” tanpa campur tangan akal budi dan kehendak manusia. Kesadaran historis melihat realitas atas dasar paham nilai atau kepentingan (Habermas) (a). menguasai alam, (b) menangkap makna, dan (c) emansipatoris. Hal itu merupakan konsekuensi dari pandangan Habermas bahwa semua ilmu tidak bebas nilai.

Arsitektur yang dipandang dengan kesadaran positivistis akan melahirkan teori arsitektur positivistis, yang melihat realitas secara obyektif “bebas nilai”. Sebagai landasan aksi memang memadai, namun ciptaan baru atas dasar asumsi – asumsi lama toh akan menghasilkan yang lama muncul dalam situasi baru. Menciptakan status quo !!! yang tidak mengarah ke emansipatoris.

Arsitektur dilihat dari sudut pandang historis akan memumculkan teori arsitektur yang kritis dan bersifat reflektif, yang melampaui teori arsitektur positivistik karena direfleksikan terhadap cita – cita dan nilai – nilai etis. Tidak berhenti pada abstraksi fakta – fakta empiris, melampaui karena refleksi dan penjiwaan adanya cita – cita dan nilai – nilai emansipatoris.

Arsitektur obyektif merupakan arsitektur yang lahir dari reaksi langsung terhadap fakta arsitektur empiris; arsitektur yang “bebas nilai”. Arsitektur subyektif adalah arsitektur yang dilandasi pemikiran reflektif subyektif dan landasan intensi atau nilai tertentu, dapat bersifat spekulatif atau bersifat kritis karena direfleksikan untuk suatu maksud perubahan emansipatoris.

PARADIGMA ARSITEKTUR KRITIS

Dilema yang dihadapi dalam dunia arsitektur, melalui kritik Habermas, adalah munculnya kutub pemikiran arsitektur yang bersifat empiris – analitis, arsitektur yang bersifat historis – hermeneutis, dan arsitektur yang kritis – emansipatoris. Konsekuensi dari paradigma itu adalah munculnya kategori teori yang khas bagi masing – masing sudut pandang.

Arsitektur dalam paradigma empiris – analitis merupakan arsitektur obyektif yang bebas nilai.

Arsitektur merupakan kenyataan empiris, arsitektur empiris, yang merefleksikan kondisi dan keadaan subyek secara obyektif faktual. Teori arsitektur yang muncul adalah teori tradisional yang bersifat kontemplatif, eksplanatif, mengandung kontrol namun belum dijiwai nilai – nilai etis dan cita – cita emansipatoris.

Arsitektur dalam paradigma historis – hermeneutis merupakan arsitektur subyektif yang sarat dengan nilai – nilai kemanusiaan, merupakan ekspresi jatidiri manusia yang mengundang untuk dipahami. Arsitektur dalam paradigma ini merupakan kenyataan etis – transenden (arsitektur subyektif), yang mengekspresikan manusia dan belum mengupayakan perubahan menuju ke arah emansipatoris kehidupan manusia.

Arsitektur dalam paradigma ilmu tindakan merupakan arsitektur subyektif yang sarat dengan pemikiran kritis dan muatan nilai ke arah cita – cita etis pembebasan manusia dari segala belenggu yang membatasi kemerdekaannya. Arsitektur dengan paradigma ini dilandasi teori arsitektur kritis, yang menembus kenyataan empiris karena dilandasi nilai – nilai etis dan bersifat reflektif - kritis. Arsitektur merupakan tindakan interaksi manusia dengan manusia, dan hasilnya adalah tahap – tahap pengembangan ke arah emansipatoris.

Dari paparan ini terkandung pemahaman bahwa terjadi pergeseran mendasar dari “paradigma kerja” (Marx) ke arah “paradigma komunikasi” (Habermas). Menurut paradigma kerja, berarsitektur adalah bekerja, ada hasil kerja yang berada di luar kerja itu sendiri. Sedangkan menurut paradigma komunikasi, berarsitektur adalah berkomunikasi, proses dan produk kegiatan komunikasi saling melekat.

Arsitektur berkesadaran kritis tidak bebas nilai (value free), malahan terikat nilai (value bound) dan maksud perubahan emansipatoris. Nilai merupakan salah satu kepentingan yang bersifat transendental, yang menjadi prasyarat bagi munculnya arsitektur. Arsitektur mengandung tujuan (nilai) etis ke arah emansipatoris.

PENUTUP

Arsitektur empiristis yang mendasarkan pada teori arsitektur positivistis bersifat kontemplatif, eksplanatif, mendukung penciptaan yang lama dalam situasi baru. Arsitektur historis – hermeneutis mendasarkan pada kepentingan ekspresi diri, yang terbatas pada ungkapan jatidiri manusia. Arsitektur kritis mendasarkan pada “teori arsitektur kritis” yang dilandasi nilai kepentingan emansipatoris, mendorong penciptaan arsitektur yang makin mengembangkan kehidupan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa tanggapan anda mengenai tulisan ini?