Sabtu, 12 Juni 2010

ARSITEKTUR BUKAN PERUSAK LINGKUNGAN

Ada anggapan bahwa disiplin ilmu Arsitektur merupakan golongan disiplin ilmu perusak lingkungan. Apakah benar bahwa ilmu arsitektur merusak lingkungan?
Sebenarnya pandangan itu tidak sepenuhnya salah karena setiap pengembangan bangunan baru pada suatu kawasan memang dapat menimbulkan terjadinya degradasi lingkungan di kawasan tersebut namun jika sang arsitek mampu memperhatikan aspek – aspek lingkungan pada setiap hasil karyanya, dampak negatif itu tidak perlu terjadi.
Analisa mengenai dampak pengembangan kawasan terhadap lingkungan sekitar merupakan hal yang mesti dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan pengembangan disiplin ilmu arsitektur. Jika pada suatu lingkungan sangat rentan terjadi degradasi lingkungan, seorang arsitek harus mampu berfikir secara arif untuk melaksanakan pengembangan di kawasan tersebut.
Sudah banyak sekali daerah – daerah di Bali yang terdegradasi oleh pengembangan disiplin ilmu arsitektur yang tidak bernurani. Contoh nyatanya tebing – tebing yang ada di daerah ubud dan sekitarnya sekarang penuh oleh bangunan – bangunan villa yang berdiri megah.. apakah sang arsitek hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata? Tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan yang bisa diakibatkan?
Dari dulu kalau kita mau mengalihkan perhatian kita, sebenarnya di Bali adalah daerah yang sangat memperhatikan lingkungan. Ada konsep Sad Kertih sebagai konsep pelestarian lingkungan. Lontar Janathaka juga menggambarkan betapa orang Bali sangat mencintai lingkungannya. Aplikasi Sad kerthi seperti Buana Kerthi dan Danu Kerthi secara gamblang menjelaskan konsep – konsep penataan hutan agar bisa dimanfaatkan tanpa merusak tatanannya.
Jadi mari kita sama – sama bersikap arif dalam mengembangkan disiplin ilmu Arsitektur agar mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap kemajuan tanpa merusak tatanan lingkungan tempat kita tinggal Cause Bali is Heaven.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa tanggapan anda mengenai tulisan ini?