Jumat, 20 April 2012

WANTILAN

Arsitektur tradisional Bali adalah suatu karya arsitektur yang banyak melibatkan berbagai disiplin ilmu tradisional Bali, seperti agama, kosmologi, filosofi, sikap hidup, dan alam lingkungan. Hal ini dapat ditemukan pada tulisan-tulisan lontar yang dikenal dengan sebutan Asta Kosali, Asta Bhumi, Asta Patali, Sikunting Umah, Giwakarma dan sebagainya. Pada umumnya estetika karya arsitektur diartikan sebagai keindahan unsur seni (rupa) yang terdapat dalam karya tersebut
Arsitektur tradisional Bali sebagi hasil karya masyarakat yang mengandung unsur – unsur normative, tampak dalam fungsi bangunan terhadap kelompok organisasi kemasysrakatan ( desa / banjar ) atau kelompok organisasi geneologis ( kelompok warga ,pededian / paibon.), Berdasarkan itu maka terbagi menjadi 3 bagian , yaitu :
1.      Bangunan yang digunakan sebagai tempat sembahyang ( Pura, Sanggal, Pemerajah )
2.      Bangunan untuk tempat tinggal ( Grya, Jero, Puri, Umah )
3.      Bangunan yang digunakan sebagai tempat perrtemuan umum ( Balai, Wantilan, Balai Banjar )

Pengelompokan bangunan menjadi 3 jenis di hubungkan dengan hakikat manusia sebagai mahluk tuhan dan mahluk social, yang berhubunagn secara harmonis.
Konsep keseimbangan kekuatan positif dan negatif di dalam Lontar Civa tatwapurana ada istilah Bhutaya, Manusya, Dewaya. Kekuatan ala mini dapat berubah menjadi kekuatan positif – negatif. Buta ( sebagai pemusnah ),Dewa ( sebagai pelindung )
konsep ini digunakan dalam struktur bangunan yang berpegang pada penghuninya.
Penempatan, penggunaan, dan pembuatan bangunan akan memberikan rasa tentram, rukun, dan makmur pada penghuninya, dan sebaliknya dapat membuat
sengsara pemiliknya, selain itu konsep Luhur Teben ( huku hilir ), Meral – Propan, Ala – Ayu ( baik – buruk, nista, madya – utama ) utpati, ashiti, Pralina, juga menjadi konsep pertimbangan dalam mendirikan sebuah bangunan.
Wantilan berasal dari katawanti yang berarti ulang atau tumpang. Menurut Oka Granoka,1985, wantilan merupakan bangunan terbuka ke segala arah yang memiliki atap bertumpang. Sehingga wantilan berarti bangunan umum terbuka yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dipura, desa, pasar atau bale banjar yang beratap tumpang. Wantilan biasanya diletakkan di Jaba Pura, Catusphata Puri atau di tengah desa.

Eksistensi wantilan menjadi bagian yang penting dalam sebuah pura terutama pura banjar untuk skala banjar, pura kahyangan tiga untuk skala desa serta pura kahyangan jagat untuk skala jagat. Pentingnya wantilan tersebut disebabkan karena fungsi wantilan untuk tempat upacara tabuh rah yang merupakan bagian dari prosesi ritual pura