SEJARAH

SEJARAH MENGWI

Dalam profil pembangunan Desa Mengwi Tahun 1995/1996 dengan berdasarkan beberapa sumber yang terdapat dalam babad Mengwi, Babad Sira Arya Benculuk, babad Sira Arya Sentong dan informasi dari tokoh-tokoh Desa Adat Mengwi, disebutkan bahwa : Sekitar Abad 16 Masehi ada yang bernama I Gusti Agung Putu atau disebut jugs I Gusti Agung Made Agung beristana di Desa Kapal dengan didampingi seorang Kipatih, bernama Kipatih Tuha. Disebutkan bahwa pada waktu itu terjadi kesalah pahaman antara I Gusti Agung Putu dengan I Gusti Ngurah Batutumpung yang berkedudukan di wilayah Desa Kekeran. Kesalah pahaman ini akhirnya menimbulkan peperangan dengan kekalahan ada dipihak I Gusti Agung Putu.
Kekalahan ini tidak berakibat fatal, oleh karena pada waktu itu I Gusti Agung Putu hanya pingsan dan berkat bantuan dari Ki Kadwa dapat siuman kembali. I Gusti Agung Putu ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di arena pertempuran di Gelagah Puwun. Atas inisiatip Ki Kadwa, I Gusti Agung Putu di timbuni dengan daun Liligundi.
Berita ini juga didengar oleh I Gusti Agung Batuumpeng dan atas saran I Gusti Kekeran, maka I Gusti Agung Putu diserahkan ke Tabanan -Hinggacanapura) untuk menjalani hukuman.
Atas permohonan I Gusti Gede Bebalang kepada raja Tabanan, maka I
Gusti Agung Putu dapat diajak ke Desa Marga. Selanjutnya atas restu I
Gusti Bebalang, maka I Gusti Agung Putu melakukan pertapaan ( semedi ) di puncak Bukit Mangu dekat Danau Beratan. Dari pertapaan ini I Gusti Agung Putu mendapatkan anugrah, bahwa kelak akan dapat berkuasa sebagai Raja dengan wilayah sebatas yang dapat di lihat dari pertapaan tersebut.
Sekembalinya dari pertapaan, segala hal ikhwal yang diperoleh dari
pertapaan disampaikan kepada I Gusti Gede Bebalang. Atas kepercayaan
dan  kasih sayangnya terhadap I Gusti Agung Putu, maka I Gusti Gede menyerahkan areal hutan ( hutan Bebalang ) untuk dijadikan Istana kerajaan dengan didampingi I Gusti Celuk (Anak I Gusti Gede Bebalang ) dengan diiringi 200 orang rakyat dan 40 orang prajurit.
Selanjutnya tempat ini disebut Bala Hayu ( Belayu sekarang ). Sejak bertempat di Belayu inilah I Gusti Agung Putu berganti nama menjadi I Gusti Agung Sakti. Dari Desa belayu inilah kira kira tahun 1539 caka (1617 M ), I Gust Agung Sakti mampu mengembangkan wilayah kekuasaannya.
Berdasarkan informasi dari beberapa informan, bahwa wilayah yang ada di sebelah Desa Belayu; oleh orang-orang dari luar sering diberi sebutan Metengah " yaitu daerah di sekitar desa Mengwi sekarang. Sejalan dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan I Gusti Agung Sakti, maka. istana ( Puri ) yang semula ada di Belayu di pindahkan ke Selatan yaitu ke Ganter dan Bekak (kaleran Bekak ).
Sejak saat itulah wilayah yang mula-mula disebut " Metengah" kemudian disebut Kawija Pura dan Puri sebagai istana beliau disebut Manga Pura. Sejak berdirinya Puri Manga Pura, I Gusti Agung Putu Sakti, lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Agung Putu Agung atau Gusti Agung Bhima Sakti, oleh karena secara gemilang telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.
Pada tahun 1556 caka, puri yang ada di Kaleran Bekak di pindahkan lagi ke sebelah timur yaitu ke Puri Mengwi sekarang dan selanjutnya beliau dinobatkan ( abiseka ) dengan gelar " Cokorda Sakti Belambangan " dan kemudian lebih dikenal dengan Abiseka Bhatara Sakti Belambangan. Bersamaan dengan pemindahan puri, juga didirikan sebuah pura di sebelah timur puri pada: Anggara Kliwon Medangsia, sasih Kartika, Sad Bhutayaksa Desa ( 1556 caka ).
Menurut versi lain juga disebutkan bahwa : secara etimologi kata 'Mengwi adalah terdiri dari dua kata yaitu Manga dan We ", kata Manga ( Jawa Kuno ) berarti air. Dalam keadaan terbuka ( telaga ). Bila dikaitkan dengan fisik lingkungan yang ada, maka yang dimaksud dengan ungkapan tadi adalah keadaan dan lingkungan alam sekitar Pura Taman Ayun yang dikelilingi oleh telaga Kata Mengawe yang berasal dari bahas kuno, adalah terdiri dari suku kata Ma-nga-we " kemudian dijadikan dua suku kata dengan menghilangkan unsur tengah, sehingga menjadi: Mengawe". Dalam proses pelafalan bunyi, kata " Mengawe " dilafalkan menjadi " Mengwi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa tanggapan anda mengenai tulisan ini?